
Selain menangis, aku juga hobby baca koran. Setiap pagi, setelah membawa-bawa radio milik kakek jalan-jalan keliling rumah, aku diam-diam mengambil koran pagi ini yang belum dibaca Papa.
Aku duduk manis di ruang tamu, entah itu di atas kursi atau pun meja. Mengambil koran dan membacanya. Lucu, padahal aku belum bisa membaca waktu itu. Kalau ditanya aku sedang apa, aku akan jawab, “Baca koran.” Semua tertawa.


Tiba-tiba, Bang Yudi, sepupuku yang sudah SMP datang. Ia spontan tertawa melihatku duduk sambil membaca koran.
Aku kesal sekali. Kulempar koran padanya. Aku menangis.
Mama menyusulku ke ruang tamu.
“Kenapa?”
Kuarahkan telunjukku pada Bang Yudi. Ia menertawaiku lagi. Semakin membuatku kesal.
“Baca korannya terbalik!” ucap Bang Yudi sambil mengembalikan koran padaku.
Tangisku semakin menjadi.
“Baca korannya bukan seperti ini,” ujar Mama sambil membalikkan koran.
“Nah, seperti ini baru bisa dibaca.”
Aku tidak mempedulikannya. Kubalikkan lagi koran itu dan kembali membacanya. Pura-pura membaca, maksudnya. Kebiasaan membaca koran terbalik ini berlanjut sampai aku mahir membaca.